Seorang wanita hanya mempunyai seorang anak berkata kepada istri pendetanya,
“Saya tidak berani berkata kepada Tuhan ‘kehendakMu yang jadi’ karena saya takut Tuhan akan mengambil anak laki-lakiku satu-satunya dan juga memberiku percobaan-percobaan yang berat!”
Mendengar hal itu temannya menjawab,
“Seandainya anakmu datang kepadamu dan berkata bahwa anakmu ingin melakukan apa saja yang ibunya inginkan, apakah engkau akan berpikir ; ‘Nah inilah kesempatan supaya segala pekerjaan saya digantikannya. Saya mau memberi pekerjaan yang berat baginya, supaya ia tidak dapat bermain diluar hari ini?”
“Oh.. tidak,” kata si ibu,
“tentu saja saya akan memberinya pekerjaan yang dapat dikerjakannya.”
“Apakah engkau berpikir bahwa Tuhan yang penuh kasih itu tidak mempunyai hati yang lebih baik dari hatimu?” tanya wanita itu lagi.
Ilustrasi di atas cukup menegur saya, ketika saat ini saya diberikan kesempatan (anugerah) untuk boleh bekerja, dan menjadi seorang pelayan Tuhan di gereja-Nya, kadang saya merasa berat dan capek. Dan merasa ini sudah di luar kemampuan saya. Hampir saya mengabaikan, siapa yg ciptaan dan siapa yang Menciptakan.
Jadi, sudahkah kita mengeluarkan segala kekuatan kita dalam menjalani anugerahNya? Ya dan amin bahwa Tuhan ga bakal kasih kita tanggung jawab di luar kemampuan kita :)
"Setialah pada perkara-perkara kecil, maka perkara besar akan diberikan padamu" mau?
That's all.
Amin,mari berikan lebih buat Tuhan untuk jadi yang terbaik,GB :)
BalasHapus