Minggu, 16 Februari 2014

Membaca

Dear all,
Surat ini saya tujukan untuk setiap orang yang suka, rindu, dan mau terus-menerus membaca.
Membaca? Yup!! Membaca, mungkin buat sebagian besar dari kita yang sudah akrab dengan media sosial sangat mudah dan gampang untuk membaca. Tapi pernahkah kita flash back ke beberapa tahun ke belakang, bagaimana awalnya kita bisa membaca? Mungkin sebagian besar dari kita lupa, termasuk saya. Ya, saya lupa bagaimana saya dulu akhirnya bisa membaca. Yang pasti untuk bisa membaca dibutuhkan waktu dan proses yang cukup memakan waktu. Ahh tapi saya tidak mengingat masa-masa itu.

“I still love books. Nothing a computer can do can compare to a book. You can’t really put a book on the Internet. Three companies have offered to put books by me on the Net, and I said, ‘If you can make something that has a nice jacket, nice paper with that nice smell, then we’ll talk.’ All the computer can give you is a manuscript. People don’t want to read manuscripts. They want to read books. Books smell good. They look good. You can press it to your bosom. You can carry it in your pocket.”– Ray Bradbury

Kutipan di atas adalah satu dari sekian banyak quote tentang manfaat membaca.

Beberapa waktu yang lalu, saya memperhatikan teman kost saya saat dia sedang mengajari anaknya untuk membaca. Anaknya berusia 5 tahun , sekolah TK tingkat besar, dan beberapa bulan lagi akan masuk SD. Beberapa temannya yang lain sudah mahir membaca, sedangkan dia masih perlu lagi belajar.
Malam itu sang ibu menemaninya belajar membaca, dan menjanjikan selesai belajar mereka akan makan dengan lauk yang enak dan boleh menonton televisi. 
Si anak awalnya dengan senang hati menerima tawaran tsb. Namun tidak sampai 30 menit berlalu, si anak sudah mulai bosan dan mulai tidak serius dalam membaca, seringkali rangkaian huruf N-Y-A dibaca YANG, dll. Sang Ibu mulai melihat gelagat ketidakseriusan anaknya dan mencoba menegur dengan "hayoo.. kalo tidak menyelesaikan bacaan ini, kita tidak akan cepat makan". Ternyata si anak pun punya rencananya sendiri, dia asal saja belajar membaca, entah salah atau benar yang penting dia selesai belajar dan kemudian makan sekaligus menonton televisi.

Sungguh sedih memperhatikan anak sekecil itu sudah punya motivasi belajar yang tidak benar, dia belajar bukan karena supaya bisa membaca, tapi dia belajar supaya waktu cepat berlalu dan dia segera makan dan nonton televisi. Siapakah yang salah? tidak ada!! Tapi lebih baik jika setiap kita yang sudah menjadi tua ini bisa memberikan contoh yang baik kepada generasi-generasi muda untuk membangkitkan motivasi yang benar. 

Tetaplah membaca kawan-kawan, tetaplah menimba ilmu.. :)

Regards,
Ely Cumiee


Kamis, 13 Februari 2014

Gunakan Suaramu!!!

Hai kawan, kalau baca judul di atas menurut kalian apa yang bakal gw bahas? Nyanyi? SALAH!!!
Tulisan ini bukan soal nyanyi juga bukan soal jadi MC/presenter, tulisan ini tentang PEMILU.
Eits, jangan antipasti trus ga mau lanjut baca lagi, baca dulu ampe habis baru keputusan selanjutnya silahkan ditentukan.
Beberapa waktu yang lalu iseng-iseng gw sms, bbm, whatsapp beberapa temen gw yang seumuran (kisaran umur 20 – 30 tahun) yang menanyakan apakah pemilu 2014 ini mereka bakal nyoblos? Dan dahsyatnya jawaban mereka semua sama : ENGGAK!! Gw gak yakin sih mereka janjian jawab kayak gitu, secara respondennya ini tidak di satu area dan tidak saling kenal (setau gw). Pas gw tanya kenapa, kesimpulan yg gw ambil dari jawaban-jawaban mereka : “emang sudah dari dulu gak mau ikut begitu-begituan”. WOW bingit kaan? Sekarang gini deh logikanya : umur-umur segitu kan umur-umur generasi yang bentar lagi bakal jadi pemimpin. So? Dengan tidak ikutnya pemilu gw rasa itu bukan keputusan yang tepat deh… Oke mari kita coba nebak alasan apa di balik ke-golput-annya mereka : apa iya apatis karena ngerasain pemimpin2 yang dirasa ga bener? Atau apa iya apatis karena pusing gak mau mikirin politik, yang penting hidup gw jalan normal, gitu? Gw rasa sih alasan sebenarnya tu karena figure pemimpin, dan bisa dipastikan para golput-ers itu sebenarnya sedang mengalami fakir kepemimpinan.
Well, gw gak mau bahas soal para calon presiden atau caleg2 yg mengajukan diri untuk dipilih. Tapi gw mw bahas soal hak pilih kita. Yup, setiap kita yang sudah umur 20th ke atas sudah punya hak pilih, artinya di tangan kita terletak satu suara. Bayangkan kalau satu orang gak milih, misalnya gw, satu suara terbuang sia-sia bukan? Oke satu suara gak ada artinya, tapi bayangin kalau di luar sana ada banyak “gw-gw” yang lain, artinya banyak orang yg berfikiran sama dengan gw, yaitu “golput”, satu suara x banyak = banyak suara terbuang sia-sia. Padahal di tangan kita-kita inilah nasib bangsa ini diletakkan.
Dan lagi kalau kartu suara lo gak lo gunain kebayang gak kalau kartu suara itu disalahartikan? Misalnya karena lo gak datang ke TPS, kartu suara lo dimanipulasi untuk memenangkan suara salah satu capres/caleg  di daerah itu?. Jadi mending lo tetep dating aja ke TPS dan kalaupun gak mau pilih siapapun, coblos aja semuanya. Yang penting hak lo udah dipakai.
Mari gunakan hak suara kita kawan!!!