Siapa yang tak kenal kota ini?
Kota dengan segala ceritanya...
Bahagia, sedih, tawa, cemas, harapan, benci, semuanya
Sebagian orang mati-matian mendatangi kota ini hanya demi kehidupan finansial yang lebih baik
Bukan, bukan, bukan soal salah atau benernya
Semua tidak salah
Toh sebenarnya yang mereka cari sebenar-benar-benar-benarnya adalah harapan
Dan karena banyak yang bilang di kota ini banyak harapan
Datanglah mereka
Macet dimana-mana
Polusi udara
Tingkat kriminalitas yang sangat tinggi
Bermacam-macam tipe manusia
Tingkat stress tinggi
Pola hidup "lo-gue"
Sepertinya persentase kebaikan lebih sedikit dari ketidakbaikan
Lalu, bagaimana orang-orang itu bisa bertahan?
Apa yang mereka cari?
Masihkah mereka mencari harapan?
atau
Sudah menyerah pada keadaan?
Saya...
Sejak awal tahun memutuskan untuk pindah ke kota ini
Bekerja.
Ahh tapi mungkin bukan itu alasan satu-satunya, saya rasa.
Secara finansial, betul, tawaran di kota ini sangatlah besar
Tapi, kota lain pun sebenarnya bisa
Secara sosiologi, ahh... saya bersusah payah mencarinya
Mencari komunitas pertemanan seperti yang saya punya di kota sebelumnya
Sangat susah
Hampir 1/2 tahun dan saya belum menemukan
Di kota ini
Saya takut, tapi harus berani
Saya gentar, tapi harus maju
Saya berharap, tapi juga pasrah
Sampai di titik ini
Saya (masih) bertahan
Suatu ketika, saya membeli siomay di depan rumah
Saya bilang bungkusin aja pak, apa aja isinya, saya tinggal sebentar
Saya masuk ke rumah untuk mengambil uang
Pas kembali, bapak siomay belum membungkus pesanan saya
Beliau berujar dengan ramah dan rendah hati "biar neng liat sendiri, jadinya sesuai sama yang neng mau"
Dengan tersenyum saya pun memilih ...
Dalam benak saya, bapak ini baik.
Di lain kesempatan, saya membeli pecel di sekitar kantor saya bekerja
Tiap saya datang, si ibu penjual selalu menanyakan "seperti biasa kan mbak?"
Dan dengan tersenyum, saya mengangguk, dan berbincang dengan beliau selagi menyiapkan pesanan
Dalam benak saya, ibu ini baik.
Serta di kesempatan-kesempatan lainnya, saya mendapati orang-orang ramah berinteraksi dengan saya...
Namun, tidak sedikit juga saya pernah bertemu dengan bapak-bapak yang rese, songong, menyebalkan...
Sampai saya tahu formulanya
Saya tahu rumusnya
Bagaimana menghadapi Jakarta ini
Sederhana
Bersyukur.
Terlepas dari hal-hal yang kurang menyenangkan yang saya alami di Jakarta, namun dari hal-hal menyebalkan itu, saya abaikan, saya isi dengan hal-hal menyenangkan... seperti mendapatkan keramahan-keramahan dari orang-orang yang saya temui.
Mungkin itu yang membuat orang-orang bertahan di Jakarta.
Dengan kasih dan kebaikan, mendatangkan pengharapan.
Jakarta, 04 Agustus 2016.