"Eh, mana tangan manisnya?" - Bunda Rika ketika hendak memberikan kue ke putrinya.
"Abel...kalau makan pakai tangan manis ya..." - Ayu kepada ponakannya yang berumur 3,5 tahun.
Dalam budaya Indonesia, memakai tangan kiri untuk melakukan aktifitas masih dianggap tidak baik, tidak sopan atau tabu bagi sebagian besar orang. Sampai ada sebutan tangan kanan itu "tangan manis" tangan kiri itu "tangan jelek". Padahal Tuhan menciptakan kita sempurna dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Hal ini menjadi sorotan beberapa orangtua khususnya ibu dalam mendidik putra/i mereka sedari kecil, dengan "memarahi" putra/i mereka jika melakukan aktifitas dengan tangan kiri. Kecenderungan anak untuk menggunakan tangan kiri masih dianggap tidak "normal" dalam masyarakat Indonesia. Hal tersebut bisa dipahami berkaitan dengan kultur yang diyakini dalam masyarakat kita bahwa tangan "manis" adalah tangan kanan.
Sesungguhnya, kecenderungan penggunaan tangan merupakan hal yang sangat wajar. Penggunaan tangan menunjukkan belahan otak sebelah mana yang aktif pada seorang anak. Belahan otak kiri mengatur kemampuan logis dan spasial yang akan digunakan, misalnya pada saat anak memahami ruang, bentuk, hal-hal matematis, dll. Penggunaan tangan kanan mengaktifkan belahan otak kiri. Belahan otak kanan mengatur kemampuan yang bersifat kreatif, emosi dan bahasa. Penggunaan tangan kiri yang aktif akan mengaktifkan pula fungsi belahan otak kanan.
Kecenderungan penggunaan tangan juga menunjukkan kekuatan otot dan keterampilan jari-jemari pada seorang anak. Sehingga bisa dipahami bila anak merasa lebih nyaman menggunakan tangan tertentu agar aktifitas yang dikerjakannya berhasil dengan maksimal.
Menimbang penjelasan di atas, sangat disayangkan bila kita memaksa anak untuk mengganti kecenderungan penggunaan tangannya. Dikhawatirkan, perlakuan itu justru membuat potensi anak tidak bisa aktual.
Di saat yang sama, anak kita membutuhkan penerimaan dari orang dewasa maupun teman-teman di sekitarnya berkaitan dengan nilai budaya yang sudah ada. Sebagai jalan tengah, anak bisa kita dorong untuk menggunakan tangan kanannya dalam situasi sosial, misalnya bersalaman dengan orang lain, makan bersama-sama dengan orang lain.
Kita juga perlu berhati-hati dengan pilihan kata. Misalnya bila anak lupa, cukup katakan "Salaman pakai tangan kanan, ya". Hal ini agar anak memahami bahwa semua tangan baik dan bermanfaat, tidak ada tangan manis dan tangan jelek. Bila dalam konteks yang berkaitan dengan ekspresi diri, misalnya menggambar, bermain, berolahraga, menulis, biarkan anak menentukan sendiri penggunaan tangannya.
-- disadur dari : Buku "Tanya-Jawab Problema Anak Usia Dini Berbasis Gender"
oleh Elga Andriana --






