Selasa, 09 Februari 2016

Left or Right (?)

"Hayo... Kalau salaman pakai tangan manis dong, nak..." - Ibu Isna kepada anaknya yang berumur 3 tahun.


"Eh, mana tangan manisnya?" - Bunda Rika ketika hendak memberikan kue ke putrinya.

"Abel...kalau makan pakai tangan manis ya..." - Ayu kepada ponakannya yang berumur 3,5 tahun.

Dalam budaya Indonesia, memakai tangan kiri untuk melakukan aktifitas masih dianggap tidak baik, tidak sopan atau tabu bagi sebagian besar orang. Sampai ada sebutan tangan kanan itu "tangan manis" tangan kiri itu "tangan jelek". Padahal Tuhan menciptakan kita sempurna dari ujung kepala sampai ujung kaki.



Hal ini menjadi sorotan beberapa orangtua khususnya ibu dalam mendidik putra/i mereka sedari kecil, dengan "memarahi" putra/i mereka jika melakukan aktifitas dengan tangan kiri. Kecenderungan anak untuk menggunakan tangan kiri masih dianggap tidak "normal" dalam masyarakat Indonesia. Hal tersebut bisa dipahami berkaitan dengan kultur yang diyakini dalam masyarakat kita bahwa tangan "manis" adalah tangan kanan.

Sesungguhnya, kecenderungan penggunaan tangan merupakan hal yang sangat wajar. Penggunaan tangan menunjukkan belahan otak sebelah mana yang aktif pada seorang anak. Belahan otak kiri mengatur kemampuan logis dan spasial yang akan digunakan, misalnya pada saat anak memahami ruang, bentuk, hal-hal matematis, dll. Penggunaan tangan kanan mengaktifkan belahan otak kiri. Belahan otak kanan mengatur kemampuan yang bersifat kreatif, emosi dan bahasa. Penggunaan tangan kiri yang aktif akan mengaktifkan pula fungsi belahan otak kanan.

Kecenderungan penggunaan tangan juga menunjukkan kekuatan otot dan keterampilan jari-jemari pada seorang anak. Sehingga bisa dipahami bila anak merasa lebih nyaman menggunakan tangan tertentu agar aktifitas yang dikerjakannya berhasil dengan maksimal.




Menimbang penjelasan di atas, sangat disayangkan bila kita memaksa anak untuk mengganti kecenderungan penggunaan tangannya. Dikhawatirkan, perlakuan itu justru membuat potensi anak tidak bisa aktual.

Di saat yang sama, anak kita membutuhkan penerimaan dari orang dewasa maupun teman-teman di sekitarnya berkaitan dengan nilai budaya yang sudah ada. Sebagai jalan tengah, anak bisa kita dorong untuk menggunakan tangan kanannya dalam situasi sosial, misalnya bersalaman dengan orang lain, makan bersama-sama dengan orang lain.




Kita juga perlu berhati-hati dengan pilihan kata. Misalnya bila anak lupa, cukup katakan "Salaman pakai tangan kanan, ya". Hal ini agar anak memahami bahwa semua tangan baik dan bermanfaat, tidak ada tangan manis dan tangan jelek. Bila dalam konteks yang berkaitan dengan ekspresi diri, misalnya menggambar, bermain, berolahraga, menulis, biarkan anak menentukan sendiri penggunaan tangannya.

-- disadur dari : Buku "Tanya-Jawab Problema Anak Usia Dini Berbasis Gender"
oleh Elga Andriana --

Kamis, 04 Februari 2016

Jangan di-Koprek

Ngakak dulu deh :))))

Ini tentang isi blog gw, pas gw koprek dari awal tulisan gw, cuma satu reaksi gw : gw alaaayyyy :)))

Mulai dari gaya penulisan, pemilihan kata, gaya bahasa... errr ~ rasanya pengen ngeblok!!!
Eits... gw mau umumin : GW GAK BAKAL HAPUS POSTINGAN-POSTINGAN AWAL GW!!!
Karena eh karena itu adalah karya asli, karena itu.. gw!!!

Segi positifnya adalah gw sekarang masih berminat untuk nulis, menginspirasi orang melalui tulisan adalah impian gw. Jadi kalau sekarang tulisan gw udah mulai 'enak' dibaca, bukan berarti dulu gw gak pernah nulis tulisan yang 'enek' buat dibaca (emm semoga kalian ngerti maksudnya yah :D)

Tapi, plis... jangan ngoprek tulisan-tulisan gw di tahun-tahun yang lampau yahh... kalau kalian masih nekat ngoprek, siapin kantong plastik gih, kali kali tar mual trus muntah gitu. :P *nyahahahaha

Selamat berkarya...


(Late) Welcome 2016

Welcome 2016

Wew... udah menginjak kalender baru. Dan gw secara resmi juga memulai lembaran baru hidup gw. Tempat tinggal baru, kota baru, pekerjaan baru, komunitas baru, orang-orang baru, lingkungan baru, semua baru...

Gak tau musti sedih atau seneng, di satu sisi meninggalkan "kehidupan" di kota lama, sedihlah pastinya. Gak bakal (sering) ketemu mereka lagi, gak bakal nikmatin rutinitas yang biasanya lagi. Kota yang ditinggali 8 tahun terakhir ini. Tapi di sisi lain seneng juga, mencoba "kehidupan" baru, petualangan baru, mengeksplore sesuatu yang baru, menantang diri sendiri untuk hal-hal yang baru.

Dan... ini sudah hampir sebulan gw di kota baru. Belum belum, belum sampai ke kesimpulan : betah/tidaknya... masih menikmati, masih mengeksplore, masih menjajaki... 

Happy New Year buat kita semua, oia bentar lagi Imlek, Happy Chinese New Year too ... 


Apa cerita barumu di Tahun Baru 2016 ini? #letsshare