Senin, 24 Agustus 2015

Diversity

"Kondangan besok pake softlens warna ijo yuk... biar kereeenn"
"gw gak deh, gw ga seneng pake softlens, nyaman pake kacamata aja"
"What?? hari gini lo ga pake softlens? cupu lo, norak ah..."
... ... ...
Pernah ngalamin hal serupa kayak gitu pas lo lebih memilih pake kacamata ketimbang soflens?

Gaes, berkacamata itu gak cupu! berkacamata itu gak norak! dan berkacamata itu gak dosa! Jadi kalo lo malu dengan kacamata lo, bukan kacamatanya yg jadi masalah, tapi lo!!!

-------------------------------------------------------------->>>>>>> Sela.

Sekitar satu minggu yang lalu sejak dipostingnya tulisan ini, gw dapat tantangan dari sahabat/adik gw @putriwidodo , yaitu posting di Instagram tentang "I am . . ." sesuatu yang harus gw isi dengan sebuah kata yang menggambarkan gw . . . 

Awalnya gw bingung, tantangan apa ini, kenapa gw musti ikut? Dan @putriwidodo menjabarkan dengan apik maksud dan tujuan project ini.

What makes me different may be the reason why I can't fit in in some places, but it doesn't mean that my differences define who I shoul be.
I am not a stereotype. Sometimes I don't think the way society wants me to. I'm still learning, growing, and making a few mistakes along the way. But one thing I know for sure is that I am myself, not what the world makes me to be.

This project is about realizing that everyone is different in their own unique ways. Bahwa sebenarnya perbedaan itu bukan yang menjadi penghalang, tetapi bagaimana kita menghadapi perbedaan itu. Belajarlah untuk menghargai, mendengarkan, dan melihat bukan hanya dari satu sisi.

"Diversity is not about how we differ. Diversity is about embracing one another's uniqueness"

@putriwidodo
Project ini tentang diversity, selama ini perbedaan itu sering jadi penghalang khususnya buat anak muda, misalnya aja lo mau jadi pemusik tapi orang di sekitar lo bilang gak guna jadi musisi, mending belajar bisnis aja, atau misalnya ada anak yang pendiem trus sama orang-orang di-judge macem-macem, padahal kita gak tau sebenernya dalam diri dia ada apa. Nah project ini mau menekankan kalo "being different" itu gak papa dan kadang malah bikin kamu unik. . .

@elycumiee
Kalo lo lebih nyaman dengan kacamata ketimbang softlens, do it! Just be yourself...
Kita cuma punya dua tangan, gak bakal bisa nutup mulut2 di luar sana yg ngomongin kita, tapi kedua tangan kita cukup buat nutup kedua telinga kita... artinya biarin aja orang2 bilang kita norak, cupu, kudet, gak #kekinian ... tapi tunjukin prestasi2 lo...
Menjadi berbeda dari orang lain tidak menjadikan kita tidak berguna.
Be different, be yourself, be bless. . .




"The things that make me different are the things that make me ME"
Piglet (Winnie the Pooh)


Then? #YouAre . . . ????


Kamis, 20 Agustus 2015

#Repost - MENGANTRI

Tulisan ini adalah tulisan #repost :)

MENGAPA PARA GURU DI AUSTRALIA LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA

Seorang guru di Australia pernah berkata kepada saya : "Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika, kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri." Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu, Saya mengekspresikan keheranan saya, karena yang terjadi di negara kita kan justru sebaliknya.

Inilah jawabannya:
  1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
  2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG dan BAGI. Sebagian mereka akan menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
  3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
"Memang ada pelajaran berharga apa di balik MENGANTRI?"
" Banyak sekali pelajaran berharganya" jawab guru kebangsaan Australia itu.

  1. Anak belajar manajemen waktu, jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
  2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
  3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.
  4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
  5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri).
  6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
  8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
  9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapian.
  10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
  11. Anak belajar bekerjasama dengan orang-orang yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
  12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.
Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dana baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.
Apa yang dipertontonkan para orangtua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.
  1. Ada orangtua yang memaksa anaknya untuk "menyusup" ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. dan berkata Sudah cuek aja, pura-pura gak tau aja!!"
  2. Ada orangtua yang memarahi anaknya dan berkata "dasar penakut!", karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
  3. Ada orangtua yang menggunakan tak-tik dan sejuta alasan agar anaknya diperbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan tak-tik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
  4. Ada orangtua yang malah marah-marah karena ditegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orangtua yang menegurnya.
  5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga?
Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orangtua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus dilatih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Antri si ATM, Lampu Lalu Lintas, Tempat Pesta, dsb

Yuk kita ajari adik/anak/cucu kita untuk mengantri.

Note : Di Inggris keluar UU Antri di Tahun 1930, kemudian dicabut pada Tahun 1996, setelah ANTRI menjadi BUDAYA.

Be Bless gaes :)

Minggu, 12 April 2015

I Hate Monday!!!

Minggu malam saat gw beranjak mau tidur, seperti biasa gw buka-buka henpon, mulai dari Sms, Bbm, Whatsapp, Line, Path, Twitter, Instagram, Facebook (anak media sosial banget kan gw ^_^)
dan mulai bermunculan DP atau postingan-postingan seperti "I Hate Monday!!!" "Rumah-Kantor 15 km, Kantor-Rumah 15 km, kenapa Senin-Minggu 6 hari, Minggu-Senin 1hari?" dan postingan-postingan lain yang sejenis...

Ada yang salah dengan hari SENIN??
*langsung dikasih tatapan sinis sama mbak-mbak, mas-mas kantoran

:D

Ernest Prakasa pernah bilang "Secapek-capeknya orang kerja, lebih capek orang yang gak kerja!"
dan gw SETUJU!!!

Coba deh kalian seharian berdiam diri di kasur, eitss... kasur ya bukan kamar, bukan rumah, kasur! Oke mungkin yang berjiwa maleeeeeesssss banget, bisa seharian berdiam diri di kasur. . . coba dua hari, tiga hari, empat hari. . .lumutan lo lama-lama!!

Well gaess... kerja itu menyenangkan kok, asal lo mencintai pekerjaan lo! Itu aja kuncinya... kalau semisal lo gak mencintai pekerjaan lo, lo gak menikmatinya, lo ga happy, lo ngerasa terbeban dengan pekerjaan yang lo punya sekarang, RESIGN as soon as possible! Kalau lo ga mau atau gak berani resign yaa cintai pekerjaan lo!

Tapi pasti bakal banyak yang kasih sanggahan : "Kalau gw resign, lo mau bayarin makan gw? Mau bayarin cicilan henpon gw? Mau bayarin ongkos ngedate gw?". Eittsss...dengan tegas gw bakal jawab "GAK MAULAH, tapi masak iya lo mau kerja banting tulang, mati-matian cuma untuk bayar-bayar tagihan itu sampe lo mati dan lo ga dapet apa-apa di kehidupan lo ini?" kalo lo masih jawab iya, gw menyayangkan sekali. . .

Oke memang susah keluar dari zona nyaman pekerjaan, dengan tuntutan iuran ini-itu, tapi sekali-sekali boleh lah pikirin diri lo sendiri, impian lo, apa-apa aja yang pengen lo capai, gak melulu kerja-bayar iuran-mati 

Ini juga jadi refleksi buat diri gw sendiri, gw sekarang udah jadi mbak-mbak kantoran di salah satu Yayasan yang mengelola Sekolah. Padahal dulu bangeeettt gw koar-koar paling anti kerja di Sekolah (yang notabene waktu itu di mindset gw kerja di Sekolah berarti ngajar a.k.a jadi guru), salah satu alasannya sih sederhana "Gw mau menghancurkan mindset keluarga besar gw kalau kerja Non-PNS, Non-Guru juga bisa sukses" tapi gw lupa kalau 'sukses'-nya mereka beda dengan 'sukses'-nya gw :3

Sebagai mbak-mbak kantoran kadang gw ngiri ama mbak-mbak atau mas-mas pengusaha yang ngantornya tidak terikat jam kerja dan hari kerja, tapi kemudian gw balik nanya ke diri gw sendiri "kalau lo mau kayak mereka, resign segera dari tempat lo sekarang, bukalah usaha!" ha ha ha sampai gw nyadar gw masih ber-"mental pegawai" . . .

So gaess, kita udah dapet rumusannya kan tentang pekerjaan? Ini buat kalian, juga gw ;)

Pertama
Bekerjalah di tempat yang lo impikan

Kedua
Cintailah pekerjaan anda! Kalau lo gak cinta, RESIGN! Kalau gak mau atau gak berani resign, LOVE UR JOB!

Ketiga
Mental pegawai akan selalu mengikat kita dengan hari dan jam kerja sesuai aturan, kalau gak mau milikilah mental sebaliknya

Keempat
Secapek-capeknya bekerja, akan lebih capek kalau tidak bekerja


Itu dulu dari gw. Selamat bekerja mbak-mbak, mas-mas kantoran ^_^

-Ely Cumiee-