Rabu, 18 Mei 2011

15 Menit…

Seorang cewek terlihat keluar dari sebuah ruang, diikuti beberapa teman sekelasnya yang lain, ada yang saling mengucapkan selamat tinggal, ada yang ngobrol rencana kemana mereka akan nongkrong selesai kelas berikutnya, tapi tidak dengan cewek satu ini, Neyna. Dengan santai dia melegang pergi dari kelasnya, dan turun ke lantai satu. Tidak mempedulikan siapapun, tidak menyapa siapapun juga, itu memang sudah menjadi kebiasaan Neyna. Santai, terkesan cuek, sedikit tomboi.
            Di lantai satu dia mulai melihat ke kiri dan kanan, mencari teman-teman satu genknya yang biasa nongkrong di lobby lantai I kampus hukum, tempat dia kuliah. Karena tidak menemukan siapapun , maka Neyna memutuskan mencari tempat duduk sendiri selagi menunggu kelas berikutnya dimulai. Handphone, satu-satunya alat komunikasi teman baiknya Neyna, dia keluarkan dari kantong celana jeans robeknya. Dimanapun dia berada, pasti hal pertama yang dia lakukan adalah mengeluarkan handphonenya dan melihatnya, walaupun dia tahu tidak ada sms maupun telefon. Sambil mengutak-atik benda kesayangannya itu, dia duduk dengan cueknya di salah satu bangku lobby kampusnya itu.
            Tiba-tiba seorang cowok menghampiri tempat dia duduk dan menyandarkan dirinya di kursi sebelah Neyna. Awalnya Neyna tidak peduli siapa orang yang duduk di sebelahnya itu, tapi lama-lama orang ini mencuri perhatiannya juga. Gimana tidak, yang duduk disebelahnya adalah anak Gubernur tempat dimana Neyna tinggal. Secara kebetulan mereka memang satu kampus, satu kebetulan yang membanggakan bagi kampus Neyna karena dengan adanya dia kuliah di kampus Neyna, otomatis kampus Neyna juga ikut terkenal. Dan tanpa sadar, Neyna mulai salah tingkah, dia merapikan cara duduknya yang bisa dibilang amburadul untuk ukuran cewek. Dan mulai berkelana dengan pikirannya, [waduh gw cabut aja dari sini  kali ya],  tapi pikiran yang lain mulai muncul [jiaah ngapain juga gw mesti pergi, toh dia gak ngobrol ma gw ini, dia cuma kebetulan duduk disini,  dan ngobrol ma temennya] Neyna pun mulai menenangkan hatinya dan berusaha bersikap biasa aja, toh dia tahu kursi di lobby ini kan banyak, ya gak salah dunk kalo seorang ‘anak gubernur’ secara kebetulan ngambil dua kursi di sebelahnya untuk ngobrol bersama temannya. [ikh gw norak banget si, bisa duduk sebelahan gini aja gw mesti salting]… ketika Neyna larut bersama pikirannya, datanglah Hesty dan Reyni, dua orang sahabatnya yang selalu heboh, kalau ngomong tidak pernah memakai suara dengan oktaf 1, yang selalu memakai suara Messo Forte kalau kata anak paduan suara, yang selalu powerfull, oktaf paling tinggi. “hai Ney, gak ada kuliah lw?” Tanya Rey dengan suaranya yang bisa bikin semua orang di lobby mengengok ke arah mereka. [aduh ni anak, gak bisa pelan yaa?? Gak tahu apa kalo disebelah gw ada si Adit] kata Neyna dalam hati, “iya ada, nanti 20 menit lagi” jawabnya dengan suara yang bisa dibilang dilembut-lembutkan, dan seanggun mungkin, yang kontan membuat dua sahabatnya ini sedikit heran dan bertanya-tanya dan mereka-reka apakah sahabatnya ini sedang kena demam akut, secara, seorang Neyna yang biasanya ancur, yang biasanya teriak-teriak, yang biasanya tertawa lebar selebar mulut kuda nil kalau lagi nguap, tiba-tiba gaya bicaranya jadi kalem kayak putri keraton, anggun kayak miss universe yang lagi pidato di depan juri. Namun ketika mereka mengetahui siapa yang sedang duduk disamping Neyna, seolah-olah semua keheranan, semua pertanyaan, semua tanda Tanya besar di kepala mereka berubah seketika menjadi tanda seru. “ehem..Ney, proposal kamu udah diajuin?” Hesty mulai berbicara, namun kali ini, dia mengikuti gaya bicara Neyna yang  lembut, anggun, bulat dan pelafalannya tepat. “oh udah kok, tinggal tunggu SK turun aja dari PD I” jawab Neyna masih dengan suara lembut, sopan, anggun-nya itu. Sedikit ngobrol basa-basi, mereka bertiga pun memulai ngobrolin hal-hal yang jarang mereka obrolin kalau mereka sedang bertemu. Mulai dari ngobrolin buku-buku di perpustakaan, ngobrolin teman mereka yang sudah ujian skripsi, sampai ngobrolin habis kuliah ini mau belajar bareng di rumah siapa. Tapi basa-basi itu harus berakhir karena Hesty dan Reyni dipanggil cowoknya masing-masing untuk diajak pulang. Tinggallah Neyna sendirian lagi menunggu kuliah selanjutnya, 10 menit terlewati, dan sudah 10 menit juga dia duduk disamping Adit ‘Anak Gubernur’. Kembali dia larut dengan HPnya, sebentar-sebentar dia mencuri pandang ke samping lewat sudut matanya, dia lihat cowok disebelahnya itu sedang memegang HP BB yang paling mahal, Neyna tanpa sadar melihat HPnya sendiri yang sudah bopeng sana-sini dan tersenyum sendiri, kemudian dia memasukkan HPnya kedalam tas kuliahnya, tanpa sadar menunjukkan kalau dia malu melihat HPnya sendiri. Kemudian tanpa sengaja dia mendengar apa yang sedang dibicarakan Adit dengan teman disebelahnya, *iya…waktu itu papaku lagi dinas, trus aku ikut… kalo lagi makan di restoran gitu, kadang ajudannya papa ikut makan bareng, tapi kadang juga enggak, kadang mereka makan juga tapi di meja yang beda, itu kalo misalnya ada aku, abangku, mamaku,  tapi kalo pas cuma berdua cuma aku ama papaku, yaa aku suruh aja ajudannya papa ikut gabung di meja kami*, Neyna mulai kembali berimajinasi dengan cerita yang didengarnya, dia membayangkan betapa hebat kehidupan cowok disebelahnya itu, betapa bergengsinya gaya hidupnya, naek mobil kemana-mana lengkap dengan ajudannya. Dia juga tahu kalau Adit juga salah satu anggota grup band yang cukup terkenal di kota itu. Neyna mulai membayangkan, betapa anak ini sangat terjamin hidupnya, kuliah sudah pasti tepat waktu, nanti selesai kuliah tinggal pilih mau kerja apa, anak yang gaul, punya teman dimana-mana, dan sangat tidak ketinggalan jaman. Perfect! Kata itu yang mungkin tepat untuk menggambarkan seorang Adit. Dan Neyna mulai membandingkan dengan dirinya, kuliah yang hanya mengandalkan uang beasiswa. Kerja parttime di minimarket demi membayar uang kostnya. Prestasi kuliah yang pas-pasan, penampilan yang bisa dibilang mengarah ke tomboy, sedikit slengekan, dan cuek sama keadaan sekitar, tidak ada yang menarik. Sama sekali.

            Namun, ketika pikiran-pikiran itu berkecamuk di otak Neyna. [tunggu, ini bukan gw nih..] [kok gw jadi kayak gini sih? Kenapa gw? Ada apa dengan gw?] sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala Neyna menertawakan tingkah lakunya selama beberapa menit tadi [akh kenapa gw harus jaim pas gw disebelah putra seorang gubernur? Apa karena gw takut? Takut kalo dia tahu kalo gw ini bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, gak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia? Hahaha betapa kerdilnya pemikiran gw… berani bener gw berfikiran kayak gitu, padahal belum tentu Adit berfikiran kayak gitu… Atau jangan-jangan gw minder, karena dia seorang anak gubernur, terkenal, multi talent, pinter, juga aktivis kampus. Akh..dia masih manusia kok,sama kayak gw, kita masih menginjak bumi yang sama, masih punya tubuh daging yang sama, jadi sebenarnya tidak ada perbedaan, karena yang membedakan sebenarnya manusia itu sendiri. Sebenarnya kami mempunyai kesempatan yang sama, walaupun notabenenya dia anak gubernur, sedangkan gw, cuma anak seorang tukang jahit di kampung. Akh…kenapa tadi gw sama anak-anak mesti ngobrolin hal-hal yang gak penting, toh Adit juga ga bakal ngerti apa yang gw obrolin. Huft…memang susah menjadi diri sendiri, apalagi jika kita merasa potensi diri kita tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain, padahal sebenarnya setiap orang punya potensinya masing-masing. Kenapa mesti jadi orang lain, padahal orang lain belum tentu bisa jadi diri mereka sendiri. Huufftt…sorry ya hati nurani, sekali lagi gw ngebohongi lw] kembali Neyna tersenyum, senyum kecut yang menertawakan dirinya sendiri dalam hati, kemudian Neyna melihat arlojinya, 10.15. Sudah 15 menit dia duduk disitu, dan selama 15 menit juga dia sudah mendapatkan pelajaran berharga dari seorang anak gubernur yang kebetulan duduk disampingnya, yang tidak mengajaknya ngobrol, yang sebenarnya tidak pernah mengenal Neyna. 15 menit yang berharga, karena lewat 15 menit itu, Neyna menemukan kembali jati dirinya, Neyna kembali menjadi dirinya sendiri, Neyna yang kemudian menertawakan kenapa dia harus bertanya ‘kenapa kuliah pake beasiswa, ga punya duit ya? Kenapa mesti kerjaparttime? Kenapa gak gaul?’ dan kenapa-kenapa lainnya yang berkecamuk dipikirannya. 15 menit yang mengubahkan, menjadikan Neyna kembali menjadi dirinya sendiri.