Senin, 11 Maret 2019

3D2N in Banyuwangi (part 1) ~ hasil memang penting tapi proses jauuuhh lebih penting untuk diketahui

Hai hai...
Gimana 2019-nya? Asik? Semoga ya... 

Kalau kalian bisa sampai di blog abal-abal ini, gw tebak pasti kalian lagi searching-searching review-an trip ke Banyuwangi. Yegak?

Oke deh, jadi gw mau sharing aja sih pengalaman selama 3hari 2malam trip di Banyuwangi.

Berawal dari iseng lihat Sriwijaya Fair di daerah BSD akhir th 2018 yg lalu, kamipun tergiur dengan murahnya penerbangan ke Banyuwangi di bulan Februari 2019 ini. Maka dengan kekuatan Credit Card salah satu member, terbelilah tiket promo Sriwijaya air rute Jakarta-Banyuwangi untuk 8 orang, namun karena ketentuan dari maskapai, maka sehari kami hanya bisa beli 4 tiket promo, alhasil kami ber-8 dapat jadwal penerbangan keberangkatan dan kepulangan yang berbeda, 4 orang pertama berangkat di hari Kamis 21 Februari 2019, pulang hari Minggu 24 Februari 2019 sore dan 4 orang berikutnya berangkat di hari Jumat 22 Februari 2019 dan pulang Senin 25 Februari 2019. Yahh tak apalah demi tiket promo yekan?

Kami pun mulai searching-searching tujuan wisata apa saja yang berpotensi di Banyuwangi, tentunya yang paling terkenal "IJEN TRIP" pasti akan kami masukkan di itinerary, selain nyari review di IG tentunya kami tanya-tanya ke temen kanan kiri oke yang sekiranya udah pernah ke Banyuwangi.

Hampir kurang lebih 5 bulan-an kami nyiapin fisik (kan mau mendaki gunung ceritanya), itinerary, kostum (ini penting banget) dan uang saku tentunya. Kami sengaja gak ambil agent, karena jatohnya akan jauuhhh lebih murah kalau ngerancang sendiri itinerarynya, dan juga.. salah satu member kami mengelola EO kecil-kecilan, jadi buat apalagi sewa agent luar? yegak? :D

Sampai kira-kira satu bulan sebelum keberangkatan, salah satu member kami yang cukup teliti iseng ngeliat jadwal penerbangan ke Jakarta-Banyuwangi, dan ditemuilah kalau jam yang tercantum saat dari SWJ Fair berbeda dengan jadwal keseharian, maka berbekal rasa deg-degan member kami nanya ke CS daaaannn... dapatlah kami kabar kalau jam-nya memang berbeda... kegalauan pertama yang kami hadapi. 

Well..
Singkat cerita, akhirnya kami semua ber-8 dapatlah penerbangan keberangkatan di jam dan hari yang sama yaitu Jumat, 22 Februari 2019 pk 06.05 WIB terminal 2F Bandara Soeta. Alhasil kami semua harus sudah di bandara paling lambat jam 04.30 WIB untuk cek in dan masukin bagasi, untung aja SWJ masih free bagasi ... kalau enggak, ntah kami bayar pake apa itu koper berkilo-kilo kami T.T

Eitsss... jangan kira udah kelar drama Banyuwangi Trip ini...
Sebelumnya, saat menyusun itinerary, karena sifatnya kami sharing cost, jadi kami rekrut temen lainnya untuk ikut trip ini. Lalu terjeratlah 2 manusia dari Denpasar dan Surabaya yang bersedia ikut trip ini, walaupun dengan sedikit bujuk rayu dan tipu.

Namun, H-3 tetiba member dari Denpasar membatalkan keikutsertaannya... ini kegalauan kedua, karena yaa kan trip ini share cost, kalo 1 member mundur, kami musti hitung ulang budget, dan alhasil pengeluaran per-kepala jadi naik, itu itu... kami gak mau, sekalipun cuma naik 50k, kami akan berusaha untuk mencari penggantinya...

Setelah membujuk, menjebak, merayu dan menawarkan ke temen gw, ikutlah member pengganti, dari JAKARTA. Yang notabenenya: tiket pesawat dan kontribusi trip bayar sendiri (mana itu H-3, kebayang donk mehongnya tiket pesawat Jakarta-Banyuwangi), niat sih ini. Tapi kan ya kesempatan untuk ngetrip bareng ga bakal dapet lagi lain waktu #alesan #pembenaraninimah

Tapi...
Lagi-lagi ajaaa ada eh ada ajaa kendala.. Gak ada jam penerbangan yang sama dengan 8 member lain dari Jakarta, alhasil... cari sana cari sini alternatif transportasi yang terbaik, jadilah... 1 member additional ini berangkat kamis sore dengan rute Jakarta-Surabaya (via Pesawat), dan Surabaya-Banyuwangi (via Kereta) ... fiuhhh~~ perjuangan demi ketemu member lainnya di Jumat pagi jam 9 di Banyuwangi.

Setelah pikir sana pikir sini, tercetuslah ide mafia brilian, gw ama member pengganti dari Jakarta (kita sebut aja Resti) tuker pesawat, jadi gw yang terbang Kamis malam via Surabaya, Resti yang terbang Jumat subuh bareng member lainnya. Toh, kami sama-sama cewek ini... tinggal tukeran KTP aja sihh... hanya saja dia berhijab, gw enggak bhahahahahaha #devil-laugh

Sebenarnya gw nyaranin buat tukeran pesawat itu emang gw pengen ke Surabaya juga sih, secara Surabaya kan deket ama kampung halaman, jadi siapa tau bisa ketemu keluarga di saat-saat transit... ehh tapi itu cuma khayalan sih, karena jam kedatangan pesawat dan keberangkatan kereta hampir cuma jeda sejam duajam aja, dan itu abis buat perjalanan dari bandara ke stasiun. Hanyaaa sajaa... akhirnya gw bisa barengan ama member lainnya yang dari Surabaya... jadi gak sendiri-sendiri amatlah perjalanan tengah malam gw naek kereta ke Banyuwangi.

Berangkat dari stasiun Gubeng di Surabaya gw ama temen naik KA Wijayakusuma 7092 pk 00.30 WIB dengan harga 170K. Kereta yang sudah lumayan bagus untuk ukuran ekonomi, ber-AC dan ada colokan di tiap seatnya, hanya saja jika mau bantal atau selimut emang harus sewa, tapi murah saja kalo emang mau nyewa bantal atau selimut, gak sampai 20k lah~~


Temen seperjalanan gueee~~ Meet: EZRA
KA Wijayakusuma ini adalah kereta ekonomi yang melayani rute Cilacap - Banyuwangi, dan kami turun di stasiun paling akhir yaitu Stasiun Banyuwangi Baru. Stasiun ini bukan di kota lho ya... justru stasiun ini agak lumayan jauh dari kota, tapiii... buat kalian yang mau ke Bali via jalur darat, adalah pilihan yang tepat kalo kalian turun di stasiun ini, kenapa? karena dari stasiun ini ke pelabuhan penyeberangan Ketapang (pelabuhan yang menghubungkan ke Pulau Bali) cukup ditempuh dengan beberapa langkah saja... alias dekeett... tinggal nyebrang jalan udah sampeee... 


Kami memilih turun di Stasiun Banyuwangi Baru karena itinerary trip pertama kami adalah ke Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan, dimana meeting point untuk nyebrangnya di Grand Watu Dodol, yang letaknya gak jauh dari Stasiun Banyuwangi Baru. Kereta kami tiba tepat pk 07.02 WIB. Karena pesawat member lainnya yg dari jakarta baru landing sekitar pk 08.00 -an, alhasil hampir sejam lebih kami lontang lantung di sekitar stasiun. Nah... untuk ke Grand Watu Dodol dari Stasiun Banyuwangi Baru (jaraknya sekitar 3km-an), kami pake ojekonline, yang banyak beroperasi disana sih G*JEK, cukup bayar 15k/orang (kalo pake g*pay bisa lebih murah ya gaesss) ~~ 

Di Grand Watu Dodol sendiri ada beberapa wahana yang ditawarkan (selain maen di pantai ya tentunya), ada ATV dan lainnya, cuman gw gak pay-attention soalnya fokus persiapan mau nyebrang ke pulau~~ hihihihih. Selain itu, sebenarnya di dekat GWD ada patung Penari Gandrung yang letaknya di pinggir jalan dimana itu maskotnya Kota Banyuwangi, kemudian di sisi sebrangnya ada Batu Dodol yang berdiri teguh di tengah jalan, menurut legenda sih itu batu emang gabisa dipindahkan, mau pake cara apapun, jadi oleh masyarakat setempat disakralkan.

Karena di pulau tidak akan ada kamar mandi/ruang ganti, jadi kami semua ganti baju renang dan (nantinya) bilas bilas di GWD ini. Ehh... tapi ya tapi... kamar mandinya bersih lhooo~~ jadi jangan khawatir, mandilah sepuasnyaaahhhh~~ oia, mau bolak balik ke kamar mandi juga gapapa, bayarnya sekali ajaa~~~ emang ibuk penjaganya baekkk bet dehhh...


~to be continue in part II~





Senin, 03 Desember 2018

SIAP SIAP

Hari ini, 4 Desember 2018
Marilah kita bersiap-siap!!!

Siap-siap menyambut Natal tahun 2018, bagi yang Kristen

Siap-siap liburan panjang, buat yang mau cuti Natal dan Tahun Baru

Siap-siap terima raport, bagi siswa-siswi yang sekolah

Siap-siap Ujian Tengah Semester, buat para mahasiswa

Saya? Kamu?
Juga musti siap-siap... siap menghadapi tahun 2019

Tahun 2018 sudah hampir selesai kita lewati
Suka, duka, canda, tawa, kecewa, curiga, tanpa sadar sudah pernah kita rasakan di 2018 ini
Tidak ada kepastian 2019 kita tidak akan merasakan hal-hal itu lagi
Yang pasti, karena kita sudah pernah merasakan dan melaluinya, kiranya di 2019 jika kita melaluinya lagi, kita menjadi kita yang lebih baik untuk merespon

Jadi? Sudah siapkah KITA?







Rabu, 03 Januari 2018

Belitong - Tolong!!!

2016 adalah tahun spesial buat gue, yah walaupun tidak mengurangi ke-spesial-an tahun-tahun lainnya juga...

Gue dan beberapa temen gue yang tergabung dalam Kelompok PA Alumni Perkantas Jakarta ngadain Weekend Alumni di ... B E L I T O N G!!! Man, BELITONG man!?! 
Well, mungkin buat kalian yang hoby travelling ato jalan-jalan pasti mikir "so what kalo Belitong?" - tapi buat gue, yang emang belum pernah ke sana itu sesuatu yang "wuooww" banget...


Walaupun dibumbui dengan adanya acara formal ibadah-sesi-meeting seperti itu, tapi tidak mengurangi keseruan kami liburan di tanah kelahiran Gubernur DKI Jakarta, Pak Ahok.

Berangkat dari Jumat pagi, acara selama 3 hari 2 malam itu kami lalui dengan keseruan, kegokilan, kehebohan, kebersamaan, dan ke- ke- lainnya yang pastinya gak bakal kita lupain dan bikin kita pengen balik lagi ke sana...

Perjalanan dimulai dengan mengunjungi Pulau Lengkuas, yang terkenal dengan mercusuarnya yang berdiri kokoh menjulang di tengah pulau itu...
Mercusuar setinggi 60 meter ini pertama kali beroperasi pada tahun 1882, walaupun sudah cukup tua, namun sampai sekarang mercusuar ini masih digunakan sebagai panduan kapal-kapal yang akan keluar masuk Pulau Belitong.

Panorama dari puncak *abaikan mata kuyu karena silau -__-

Untuk masuk ke Mercusuar, tiap pengunjung diharuskan membayar kontribusi sebesar Rp 5.000,- dan diwajibkan untuk melepas alas kaki saat menaiki mercusuar, hal ini untuk menghindari bertambahnya karat yang ada, karena semua bagian di dalam mercusuar terbuat dari besi. Sedangkan untuk menyewa boat/perahu dari Tj Kelayang dengan kapasitas penumpang sampai 25 orang seharga Rp 1.500.000,- sudah termasuk life vest per-orang.

Kapal yang membawa kami ke Pulau Lengkuas

Dilanjutkan ke Pantai Tanjung Tinggi, yang adalah pantai dengan batu-batu granit besar khas Pulau Belitong - yang juga menjadi salah satu lokasi syuting film laskar pelangi.






2018? Apa kabar 2017?

Seriusan ini udah 2018?
Trus apa kabar 2017 gue?

Itu sih yang kepikir di otak pas "nyadar" ini tu udah 2018.

Well, eniwei, apapun itu gue mau ucapin selamat taun baru, selamat merencanakan hal-hal baru, selamat membeli kalender baru, dan selamat menjadi kamu yang baru ^__^

Mungkin beberapa dari kita masih "jet lag" dari penerbangan tahun 2017, artinya mungkin beberapa dari kita masih "mental 2017", masih belum move on dari 2017 saking nyamannya... itu wajar! Apalagi di awal-awal bulan Januari gini, duh.. rasanya masih gimanaaa gitu... ya gak??

Kalo iya, berarti gak cuma gue aja yang ngerasa kayak gitu. Jujur, gue masih "jet lag"... parah... sampai gue bikin tulisan ini aja, rasanya gue masih kejebak di 2017. Beberapa pertanyaan konyol yang masih muter-muter di otak gue:

"Ini udah 2018? trus apa kabar 2017 gue?"
"Jadi, 2017 kemaren gue ngapain aja yak?"
"Gilak, 2017 udah lewat? Gitu aja?"

Well, pertanyaan-pertanyaan konyol itu sebenernya muncul karena gue gak bener-bener maksimal menjalani 2017 gue. Entah... bisa jadi karena banyak faktor, bisa jadi karena kerjaan, komunitas, keluarga, urusan ncem-nceman alias gebet menggebet... dsb.

Tapi mau gimana juga, 2017 gue gak bisa balik. Mau gak mau sekarang, mulai saat ini, gue udah, sedang dan akan menjalani 2018 gue, so... mau gak mau gue udah mesti move on.
Karena dengan kita udah ada di saat ini, artinya sebenernya kita harusnya udah bersyukur banget. At least kita udah ada di saat ini dalam keadaan sehat dan dicintai (minimal oleh keluarga dan diri sendiri), itu anugrah Tuhan yang paling dasar, apalagi kalo kita udah kerja, punya anak-istri/suami, itu harusnya udah jadi tambahan list kenapa harusnya kita bersyukur.

Yuk ah.. udahan jet lag nya...
Yuk jalani 2018 dengan lebih berkualitas, berintegritas dan bersyukur.

Salam move on,
:D

Kamis, 22 Desember 2016

IS IT PROBLEM?

Ada seorang pria yang buta huruf bekerja sebagai penjaga sekolah. Sudah kurang lebih 20 tahun dia bekerja di sana.

Suati hari kepala sekolah itu digantikan dan menerapkan peraturan baru. Semua pekerja harus bisa membaca & menulis, maka penjaga yang buta huruf itu terpaksa tidak bisa bekerja lagi.

Awalnya dia sangat sedih, sampai dia tidak berani langsung pulang ke rumah untuk memberitahu istrinya. Dia berjalan pelan menyusuri jalanan. Sampai tiba-tiba muncullah ide untuk membuka kios di jalanan tersebut. Tidak disangka usahanya sukses, dari satu kios sampai menjadi beberapa kios. Kini dia jadi seorang pengusaha yang sukses dan kaya.

Suatu hari, dia pergi ke bank untuk membuka rekening, namun karena buta huruf dia tidak bisa mengisi formulir, kemudian karyawan bank yang membantunya berkata:
"Wah, Bapak buta huruf saja bisa punya uang sebanyak ini, apalagi kalu bisa membaca dan menulis, pasti lebih kaya lagi"
Dengan tersenyum Bapak itu menjawab: "Kalau saya bisa membaca dan menulis, saya pasti masih jadi penjaga sekolah"

...........

Apa yang merupakan musibah, bisa saja menjadi berkat. Berkat tidak selalu berupa emas, intan permata atau uang banyak, bukan pula saat kita tinggal di rumah mewah dan pergi kemana-mana dengan mengendarai mobil keluaran terbaru, namun berkat adalah saat kita kuat dalam keadaan putus asa, mampu tetap bersyukur ketika tidak punya apa-apa. Mampu tersenyum saat diremehkan, mampu tetap taat walau hidup terasa berat.

Lakukan bagian kita secara maksimal, biarlah TUHAN melakukan bagian-Nya. Sekalipun seolah-olah tiada pertolongan jalan keluar, mengalirlah seperti air mengalir, jangan berontak menyalahkan Tuhan, karena manusia hanya mengetahui apa yang di depan mata, tetapi Tuhan mengetahui jauh ke depan tentang rencana yang indah bagi mereka yang mengasihi Dia.

Tuhan memberkati. ^_^

Rabu, 03 Agustus 2016

Jakarta

Siapa yang tak kenal kota ini?
Kota dengan segala ceritanya...
Bahagia, sedih, tawa, cemas, harapan, benci, semuanya
Sebagian orang mati-matian mendatangi kota ini hanya demi kehidupan finansial yang lebih baik
Bukan, bukan, bukan soal salah atau benernya
Semua tidak salah
Toh sebenarnya yang mereka cari sebenar-benar-benar-benarnya adalah harapan
Dan karena banyak yang bilang di kota ini banyak harapan
Datanglah mereka

Macet dimana-mana
Polusi udara
Tingkat kriminalitas yang sangat tinggi
Bermacam-macam tipe manusia
Tingkat stress tinggi
Pola hidup "lo-gue"
Sepertinya persentase kebaikan lebih sedikit dari ketidakbaikan
Lalu, bagaimana orang-orang itu bisa bertahan?
Apa yang mereka cari?
Masihkah mereka mencari harapan?
atau
Sudah menyerah pada keadaan?

Saya...
Sejak awal tahun memutuskan untuk pindah ke kota ini
Bekerja.
Ahh tapi mungkin bukan itu alasan satu-satunya, saya rasa.
Secara finansial, betul, tawaran di kota ini sangatlah besar
Tapi, kota lain pun sebenarnya bisa
Secara sosiologi, ahh... saya bersusah payah mencarinya
Mencari komunitas pertemanan seperti yang saya punya di kota sebelumnya
Sangat susah
Hampir 1/2 tahun dan saya belum menemukan
Di kota ini
Saya takut, tapi harus berani
Saya gentar, tapi harus maju
Saya berharap, tapi juga pasrah

Sampai di titik ini
Saya (masih) bertahan

Suatu ketika, saya membeli siomay di depan rumah
Saya bilang bungkusin aja pak, apa aja isinya, saya tinggal sebentar
Saya masuk ke rumah untuk mengambil uang
Pas kembali, bapak siomay belum membungkus pesanan saya
Beliau berujar dengan ramah dan rendah hati "biar neng liat sendiri, jadinya sesuai sama yang neng mau"
Dengan tersenyum saya pun memilih ...
Dalam benak saya, bapak ini baik.

Di lain kesempatan, saya membeli pecel di sekitar kantor saya bekerja
Tiap saya datang, si ibu penjual selalu menanyakan "seperti biasa kan mbak?"
Dan dengan tersenyum, saya mengangguk, dan berbincang dengan beliau selagi menyiapkan pesanan
Dalam benak saya, ibu ini baik.

Serta di kesempatan-kesempatan lainnya, saya mendapati orang-orang ramah berinteraksi dengan saya...

Namun, tidak sedikit juga saya pernah bertemu dengan bapak-bapak yang rese, songong, menyebalkan...

Sampai saya tahu formulanya
Saya tahu rumusnya
Bagaimana menghadapi Jakarta ini
Sederhana
Bersyukur.

Terlepas dari hal-hal yang kurang menyenangkan yang saya alami di Jakarta, namun dari hal-hal menyebalkan itu, saya abaikan, saya isi dengan hal-hal menyenangkan... seperti mendapatkan keramahan-keramahan dari orang-orang yang saya temui.
Mungkin itu yang membuat orang-orang bertahan di Jakarta.

Dengan kasih dan kebaikan, mendatangkan pengharapan.

Jakarta, 04 Agustus 2016.

Rabu, 27 Juli 2016

All I Ask

I will leave my heart at door
I won't say a word
They've all said before, you know
So why don't we just play pretend
Like we're not scared of what is coming next
Or scared of having nothing left

Look, don't get me wrong
I know there is no tommorow
All I ask is

If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?

I don't need your honesty
It's already in your eyes 
And I'm sure my eyes, they speak for me
No one knows me like you do
And since you're the only one that matters
Tell me who do I run to?

Look, don't get me wrong
I know there is no tommorow
All I ask is

If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?

Let this be our lesson in love
Let is be the way we remember us
I don't wanna be cruel or vicious
And I ain't asking for forgiveness
All I ask is

If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?

S.H.